Skip to content

Tulisan mendadak hiburan

July 2, 2009

Singkat cerita, kemarin kamis sore, kami yang ada di ruangan MP butuh sedikit hiburan.

Bram sedang mengerjakan kata pengantar skripsinya, tapi stuck. Egi sedang mengerjakan proposal keaktifan Himpunan publik, mukanyan masam dikejar deadline. “Paling telat besok” gerutunya, sambil menceritakan pengalaman lucunya berbincang dengan sang penentu deadline. Bimo, seperti biasa, sedang menggerutu, tapi kali ini jelas apa yang ia gerutui, soal baju yang baru saja ia jual tapi ternyata ada sedikit bolongya. Sedangkan saya sendiri, sedang lelah seharian menjalani hidup yang keras..(ahahaaha).  Juga ada kopral yang lagi ngerjain prakaryanya, untuk memenuhi tuntuan hidup yang juga keras baginya.

Jadi saya iseng-iseng mengajak Bram untuk menulis. “Bram, nulis cerita yuk”. Bram siap sedia menyambut tawaran saya. Seakan mengafirmasi prasangka saya bahwa ia sedang butuh hiburan. Bimo juga saya ajak, tapi ia sedang banyak pikiran. “Lagi ngitung nda”, kata Bimo. “Tuh, gua ada kalkulator”, balas saya. “engga, ngitung di kepala, ngitung perputaran”. Saya tak mengerti maksud dia mengatakan menghitung perputaran itu apa, tapi saya tak lagi bertanya. Untuk egi, ia tetap serius menatap layar laptop mengerjakan proposal keaktifan. Seakan-akan jika proposalnya tidak selesai esok hari maka sepenggal namanya: egi, telah didaftarkan di buku calon penghuni neraka. Ia takut sekali himpunan publik tak mendapatkan dana, dan itu memang neraka dunia. Media Parahyangan pernah merasakannya.

Lalu saya dan Bram mulai menulis. Tak berapa lama menulis, Dhito datang. Langsung lah saya ajak dia juga, dan ajakan saya pun langsung disambut. Jadi, inilah tulisan-tulisannya:

(M)Baran dan Senjata Panci

Oleh : Bramantya Basuki

Gemuruh burung besi tak henti-hentinya menderu.  Langit berwarna agak keabu-abuan karena asap yang mengepul.  “Jadi, kita semua hanya ikut-ikutan, disuruh ngumpet di balik pintu, ya ikut.  Dan bener, kita selamet.
Padahal bom jatuhnya cuma lima meter di depan kita”.  Bude Tutik menceritakan itu semua dengan begitu semangat, matanya berbinar.  Aku cuma tersenyum.  Aku ingat bahwa tahun itu, 1948, Indonesia terdera Agresi Militer II, dan Ambarawa menjadi medan perang.  Di kota itu terdapat tangsi-tangsi militer, pusat kavaleri Angkatan Darat.
Ambarawa jadi sasaran tembak bom-bom sekutu untuk melemahkan kekuatan TKR.  Kebanyakan dari penduduknya, termasuk Bude, Pakde, dan si Mbah mengungsi ke (M)baran.

Baran adalah sebuah lembah yang subur yang diapit gunung Merapi dan Merbabu.  Abu vulkanik yang tersebar di seluruh tempat itu memungkinkan penduduk untuk menanam apa saja.  Disinilah pusat pengungsian penduduk dari Ambarawa, Magelang, dan Yogyakarta waktu itu.  Masyarakat sekitarnya diceritakan sangatlah baik, saling bahu- membahu memberi makan dan tempat berteduh bagi para pengungsi, dan Pakde yang masih kecil sangat gembira ketika dibagikan manisan pohon Aren.

Di tangsi pengungsi itulah ternyata ayah dilahirkan.  Bukan di Ambarawa yang seperti kita keluarga ketahui.  Saat itu, kamp pengungsian dibangunkan oleh lolongan panjang sirene.  Pesawat sekutu datang dari kejauhan dan langsung menembak.  Si Mbah sekenanya langsung menyambar panci yang ada di sebelah, lalu bergegas berlari menuju tempat yang aman sambil menggendong Pakde dan Bude.  Pekik peluru ada dimana-mana, kepulan asap dan jilatan api ada di sekitar pengungsian.  Tak jelas mana tubuh yang terbaring sekarat, mana yang sudah pulang ke haribanNya.  Di dalam perut si Mbah yang berlari-lari itulah Ayahku dikandung.  Berbekal panci yang sekenanya ia ambil tadi, dijadikan pelindung kepala.  Pakde dan Bude menangis sekencangnya.

Pesawat itu datang entah dari mana.  Riuh rendah teriakan orang membuat tidak jelas dari mana munculnya pesawat.  Yang terdengar jelas hanyalah suara rentetan tembakan tersebut.  Seperti sebuah mala dari langit, yang dilewatinya hanya akan bertemu dengan kematian.  Namun, si Mbah hendak melawan Mala itu, maut itu, pesawat canggih dengan peluru-peluru tajamnya dengan sebuah panci.

Panci, lempeng besi yang bagi banyak pejuang, tentara, maupun patriot pada negara dianggap hanya sebagai benda tak penting urusan perempuan menjadi senjata utama bagi si Mbah untuk menghadapi peluru-peluru tajam pesawat sekutu.  Dan benar saja, dengan panci berbentuk parabola di sunggi diatas kepalanya, peluru-peluru tajam itu dengan mulus seperti meluncur mengikuti kontur parabol melenting kembali ke atas.  Si Mbah, Pakde, Bude, dan Ayah yang masih dalam kandungan pun selamat.

Dari sanalah nama Ayah, Basuki, yang artinya selamat, diberikan oleh si Mbah.  Dan dari Pakde, kita pun tahu bahwa sampai saat meninggalnya di tahun 2003, Ayah tidak pernah tahu asal-usul cerita namanya.  Yang kita tahu, ia tak pernah mencatatkan tempat lahirnya di Bara, di kampung pengungsian itu.

Sebuah Dongeng tentang Saudagar yang Ingin Kaya

Oleh: Ananda Badudu

Suatu hari di tanah Sumawijaya datang seorang saudagar kaya kepada seorang dukun tua. Dukun itu terkenal akan kesaktiannya, sedang si saudagar ingin menjadi lebih kaya. Kepada si dukun ia berkata:

“Mbah, aku pengin tambah kaya mbah”

Si Mbah dukun rupanya sudah sering mendapati permintaan ini. Tanpa banyak bicara dia langsung mengeluarkan barang-barang ilmunya. Dikeluarkanlah seutas akar pohon jati yang tampaknya telah diolah menjadi tipis, juga beberapa batu kecil. Barang-barang itu diambil dari sebuah lemari yang usang. Isinya banyak.

“Kamu harus hati-hati” kata si Mbah

“Banyak yang minta kaya, pengin kaya, sama seperti kamu, tapi ndak semuanya berhasil”

“Iya mbah”. Balas saudagar

Diletakkanlah barang-barang itu di hadapan si saudagar.

“kamu harus rajin” kata si mbah.

“Iya, mbah”. Kata saudagar tak sabar.

Si Mbah komat-kamit membacakan mantra. Saudagar gelisah menunggu lebih lama.

“Ini akar, dan ini batu. Kalau mau jadi kaya, kamu untai keduanya menjadi sebuah kalung. Pasang batu ini satu-satu, sampai lengkap. Nanti kamu datang lagi ke saya”

“Baik mbah” kata saudagar.

“Itu saja mbah?” tanyanya.

“Tapi….kamu tidak boleh bertemu dengan bayanganmu ketika melakukannya” jawab dukun tua

“Itu saja syaratnya mbah?”

“Ya, itu saja syaratnya. Nanti kamu akan jadi 1000 kali lebih kaya dari sekarang”.

“Baik Mbah”.

Saudagar pun pamit pada si Mbah dan segera ia mencari akal untuk melakukan apa yang dikatakan si Mbah dukun tua.

Dalam perjalanannya pulang, saudagar melihat gua. “Nah, disana aku tak akan menemukan bayanganku” kata saudagar dalam hati. Lalu ia pu masuk ke dalam gua dan berusaha membikin seuntai kalung dari akar dan batu pemberian si duku tua.

Saudagar mengalami kesulitan menhindari bayangan, lalu ia masuk lebih dalam ke perut gua. Disana ia berhasil menghindari  bayangannya. Tapi ia mengalami kesulitan lain. Ia tak dapat melihat dalam kegelapan. Ia terus berusaha memasukkan batu ke akar jati, tapi usahanya tak kunjung berhasil, usahanya sia-sia.

Setelah dua hari dua malam berusaha dalam gua, saudagar putus asa. Ia keluar dan kembali melanjutkan perjalannya pulang. Tubuhnya lemas dan perutnya lapar. Kedinginan, ia pun berhenti sejenak di perapian yang dibuat oleh beberapa pengemis jalanan.

Api itu besar dan bercahaya. Ia memberi bayangan pada apapun yang dikenainya. Tapi, dalam api itu sendiri, tak mungkin ditemui bayangan.

Saudagar yang putus asa, kelaparan, kedinginan, dan tak sabar menjadi 1000 kali lebih kaya tanpa pikir panjang melangkah ke dalam api. Ia terbakar. Tak lama kemudian ia mati.

Beberapa pengemis jalanan yang ada di perapian pada saat itu menjadi 1000 kali lebih kaya, menjual harta benda yang dikenakan saudagar yang tak ikut mati dan terbakar.

(Tanpa Judul)

Oleh: Adhito Harinugroho

Sore itu Yadi berdiri di seberang jalan besar, ia bersama teman-temannya melihat keseberang jalan besar itu. Yang dilihatnya, taman segitiga di ujung seberang jalan. Yadi dan teman-temannya ingin pergi ke taman itu, tetapi taman itu memiliki penjaga, penjaga yang suatu saat bisa datang dan menangkap Yadi adn kawan-kawan.

“Yang kita harus lakuan pertama kali adalah menyeberang  jalan kawan-kawan”, Yadi memberi komando kepada kawan-kawannya. Teman-temannya yang berjumlah tujuh orang itu mengangguk.

“Tapi bagaimana bila para penjaga datang di?” tanya Ragam, temannya.

Yadi diam, ia menerawang ke masa lalu, di saat ia dan teman-temannya berada disebuah taman, ia diusir oleh penjaga taman. Yadi tidak tahu mengapa ia diusir, yang ia tahu ia tidak berhak berada di situ. Mereka tidak menjelaskan kenapa, yang jela tidak berhak.

“Begini saja, kita kesana dulu, lalu pura-pura mau lewat saja. Bila ga ada penjaga, baru kita bisa melakukan hal itu”. Kata Yadi. Teman-temannya mengangguk. Saatnya mereka beraksi.

Di jalan besar itu, mobil melaju cepat, memang karena waktu sudah sore sehingga para pengemudi ingin sampai lebih cepat ditunggu anak dan istri di rumah.

“Sekarang…!”, teriak Yadi.

Mereka menyeberang jalan dengan berlari.

“Wooohoo, hiya”, begitulah teriakan mereka

Akhirnya mereka sudah sampai di seberang, tiba di taman, tempat tujuan mereka.

“Gam, periksa keadaan” Kata Yadi

Ragam segera memeriksa keadaan, setelah ia berkeliling, ia melapor kepada Yadi bahwa keadaan sudah aman.

“Baik Kawan-kawan, kita bisa main disini” kata Yadi

Mereka mengeluarkan raket dan kok, mulai main badminton di taman segitiga gandok, ciumbuleuit.

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. frnsxx permalink
    July 3, 2009 1:49 am

    hihihihihi,,, bagus bagus, cuma nanda aja yang gore, orang kebakar, ih…

  2. harinugroho adhito permalink
    July 3, 2009 11:42 am

    nanda……..bimo jangan loi ajak nulis, dia tuh lo ajak nyetak uang

  3. Bimo permalink
    July 6, 2009 1:37 pm

    jai ini yang elo ketawa-ketawain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: