Skip to content

Fasis

July 23, 2009

oleh : BYS

Suatu hari di akherat ketika masa penghukuman belum tiba, para penghuni akherat duduk menunggu keputusan sang kuasa. Hari itu, Benito Mussolini kembali menjumpai kawan-kawannya, Adolf Hitler dan Fransisco Franco yang tengah asyik menyeruput kopi.

“Hei Adolf,” serunya setengah berbisik.”

“Bagaimana menurutmu kawan?” Mussolini memalingkan mata.

“Ah Benito, rencanamu sungguh indah dan baru saja kubujuk Franco, ia antusias sekali,” Hitler tersenyum sambil merapikan kumisnya dari serpihan biji kopi yang menyangkut.

“Tampaknya kita butuh lebih banyak aliansi, Adolf!” Mussolini berkata sambil memutar-mutar kepala celingukan.

“Bagaimana dengan Hirohito, dia toh satu poros dengan kita dulu,” Hitler menukas.

“Yah, tapi ia pemuja matahari. Tuhan tak akan memberi ampun pada penyembah berhala seperti dia,”

“Untunglah kita seorang Fasis,” Hitler berkata setengah berseru.

“Bagaimana dengan itu, si Ketua Mao? Aku dengar ia jago strategi,” Franco bertanya.

“Komunis! lebih buruk lagi dari penyembah matahari!” dengus Mussolini.

“Jadi kita coret juga Stalin dari daftar!,” ujar Franco. Hitler mengangguk tanda setuju.

“Hei aku tahu! itu yang baru masuk kemarin! dari asia tenggara!” Franco berseru girang.

“Siapa? Newin Chidchob? dia belum masuk akhirat!” Hitler menyanggah.

“Bukan! Soeharto! dia tampaknya Fasis juga!”

“Yeah, the smiling fascist, dia bisa kita ajak!” Mussolini senang.

Mereka bersepakat untuk mengundang tokoh-tokoh lain untuk bergabung dalam barisan mereka. Mereka berencana menuntut pada Tuhan agar mengembalikan mereka kembali ke dunia.

Beberapa waktu kemudian mereka datang menemui Tuhan dan mengutarakan keinginan mereka untuk kembali. Tuhan tampak sedang baik hati kala itu. Ia memenuhi permintaan mereka dengan satu syarat : rakyat mereka merindukan kehadiran mereka kembali, karena suara rakyat adalah suara Tuhan.

Mussolini, Hitler dan Franco duduk di meja kopi yang sama, mereka pun menggerutu.

“Seharusnya kita bertanya padanya, apa yang ia lakukan selama memerintah!” Mussolini berkata sebal.

“Yah, tampaknya kita harus belajar dari dia,” Hitler berkata getir.

Keputusan Tuhan menyakitkan mereka. Hanya Soeharto yang di perbolehkan kembali ke dunia.

Tulisan mendadak hiburan

July 2, 2009

Singkat cerita, kemarin kamis sore, kami yang ada di ruangan MP butuh sedikit hiburan.

Bram sedang mengerjakan kata pengantar skripsinya, tapi stuck. Egi sedang mengerjakan proposal keaktifan Himpunan publik, mukanyan masam dikejar deadline. “Paling telat besok” gerutunya, sambil menceritakan pengalaman lucunya berbincang dengan sang penentu deadline. Bimo, seperti biasa, sedang menggerutu, tapi kali ini jelas apa yang ia gerutui, soal baju yang baru saja ia jual tapi ternyata ada sedikit bolongya. Sedangkan saya sendiri, sedang lelah seharian menjalani hidup yang keras..(ahahaaha).  Juga ada kopral yang lagi ngerjain prakaryanya, untuk memenuhi tuntuan hidup yang juga keras baginya.

Jadi saya iseng-iseng mengajak Bram untuk menulis. “Bram, nulis cerita yuk”. Bram siap sedia menyambut tawaran saya. Seakan mengafirmasi prasangka saya bahwa ia sedang butuh hiburan. Bimo juga saya ajak, tapi ia sedang banyak pikiran. “Lagi ngitung nda”, kata Bimo. “Tuh, gua ada kalkulator”, balas saya. “engga, ngitung di kepala, ngitung perputaran”. Saya tak mengerti maksud dia mengatakan menghitung perputaran itu apa, tapi saya tak lagi bertanya. Untuk egi, ia tetap serius menatap layar laptop mengerjakan proposal keaktifan. Seakan-akan jika proposalnya tidak selesai esok hari maka sepenggal namanya: egi, telah didaftarkan di buku calon penghuni neraka. Ia takut sekali himpunan publik tak mendapatkan dana, dan itu memang neraka dunia. Media Parahyangan pernah merasakannya.

Lalu saya dan Bram mulai menulis. Tak berapa lama menulis, Dhito datang. Langsung lah saya ajak dia juga, dan ajakan saya pun langsung disambut. Jadi, inilah tulisan-tulisannya:

(M)Baran dan Senjata Panci

Oleh : Bramantya Basuki

Gemuruh burung besi tak henti-hentinya menderu.  Langit berwarna agak keabu-abuan karena asap yang mengepul.  “Jadi, kita semua hanya ikut-ikutan, disuruh ngumpet di balik pintu, ya ikut.  Dan bener, kita selamet.
Padahal bom jatuhnya cuma lima meter di depan kita”.  Bude Tutik menceritakan itu semua dengan begitu semangat, matanya berbinar.  Aku cuma tersenyum.  Aku ingat bahwa tahun itu, 1948, Indonesia terdera Agresi Militer II, dan Ambarawa menjadi medan perang.  Di kota itu terdapat tangsi-tangsi militer, pusat kavaleri Angkatan Darat.
Ambarawa jadi sasaran tembak bom-bom sekutu untuk melemahkan kekuatan TKR.  Kebanyakan dari penduduknya, termasuk Bude, Pakde, dan si Mbah mengungsi ke (M)baran.

Baran adalah sebuah lembah yang subur yang diapit gunung Merapi dan Merbabu.  Abu vulkanik yang tersebar di seluruh tempat itu memungkinkan penduduk untuk menanam apa saja.  Disinilah pusat pengungsian penduduk dari Ambarawa, Magelang, dan Yogyakarta waktu itu.  Masyarakat sekitarnya diceritakan sangatlah baik, saling bahu- membahu memberi makan dan tempat berteduh bagi para pengungsi, dan Pakde yang masih kecil sangat gembira ketika dibagikan manisan pohon Aren.

Di tangsi pengungsi itulah ternyata ayah dilahirkan.  Bukan di Ambarawa yang seperti kita keluarga ketahui.  Saat itu, kamp pengungsian dibangunkan oleh lolongan panjang sirene.  Pesawat sekutu datang dari kejauhan dan langsung menembak.  Si Mbah sekenanya langsung menyambar panci yang ada di sebelah, lalu bergegas berlari menuju tempat yang aman sambil menggendong Pakde dan Bude.  Pekik peluru ada dimana-mana, kepulan asap dan jilatan api ada di sekitar pengungsian.  Tak jelas mana tubuh yang terbaring sekarat, mana yang sudah pulang ke haribanNya.  Di dalam perut si Mbah yang berlari-lari itulah Ayahku dikandung.  Berbekal panci yang sekenanya ia ambil tadi, dijadikan pelindung kepala.  Pakde dan Bude menangis sekencangnya.

Pesawat itu datang entah dari mana.  Riuh rendah teriakan orang membuat tidak jelas dari mana munculnya pesawat.  Yang terdengar jelas hanyalah suara rentetan tembakan tersebut.  Seperti sebuah mala dari langit, yang dilewatinya hanya akan bertemu dengan kematian.  Namun, si Mbah hendak melawan Mala itu, maut itu, pesawat canggih dengan peluru-peluru tajamnya dengan sebuah panci.

Panci, lempeng besi yang bagi banyak pejuang, tentara, maupun patriot pada negara dianggap hanya sebagai benda tak penting urusan perempuan menjadi senjata utama bagi si Mbah untuk menghadapi peluru-peluru tajam pesawat sekutu.  Dan benar saja, dengan panci berbentuk parabola di sunggi diatas kepalanya, peluru-peluru tajam itu dengan mulus seperti meluncur mengikuti kontur parabol melenting kembali ke atas.  Si Mbah, Pakde, Bude, dan Ayah yang masih dalam kandungan pun selamat.

Dari sanalah nama Ayah, Basuki, yang artinya selamat, diberikan oleh si Mbah.  Dan dari Pakde, kita pun tahu bahwa sampai saat meninggalnya di tahun 2003, Ayah tidak pernah tahu asal-usul cerita namanya.  Yang kita tahu, ia tak pernah mencatatkan tempat lahirnya di Bara, di kampung pengungsian itu.

Sebuah Dongeng tentang Saudagar yang Ingin Kaya

Oleh: Ananda Badudu

Suatu hari di tanah Sumawijaya datang seorang saudagar kaya kepada seorang dukun tua. Dukun itu terkenal akan kesaktiannya, sedang si saudagar ingin menjadi lebih kaya. Kepada si dukun ia berkata:

“Mbah, aku pengin tambah kaya mbah”

Si Mbah dukun rupanya sudah sering mendapati permintaan ini. Tanpa banyak bicara dia langsung mengeluarkan barang-barang ilmunya. Dikeluarkanlah seutas akar pohon jati yang tampaknya telah diolah menjadi tipis, juga beberapa batu kecil. Barang-barang itu diambil dari sebuah lemari yang usang. Isinya banyak.

“Kamu harus hati-hati” kata si Mbah

“Banyak yang minta kaya, pengin kaya, sama seperti kamu, tapi ndak semuanya berhasil”

“Iya mbah”. Balas saudagar

Diletakkanlah barang-barang itu di hadapan si saudagar.

“kamu harus rajin” kata si mbah.

“Iya, mbah”. Kata saudagar tak sabar.

Si Mbah komat-kamit membacakan mantra. Saudagar gelisah menunggu lebih lama.

“Ini akar, dan ini batu. Kalau mau jadi kaya, kamu untai keduanya menjadi sebuah kalung. Pasang batu ini satu-satu, sampai lengkap. Nanti kamu datang lagi ke saya”

“Baik mbah” kata saudagar.

“Itu saja mbah?” tanyanya.

“Tapi….kamu tidak boleh bertemu dengan bayanganmu ketika melakukannya” jawab dukun tua

“Itu saja syaratnya mbah?”

“Ya, itu saja syaratnya. Nanti kamu akan jadi 1000 kali lebih kaya dari sekarang”.

“Baik Mbah”.

Saudagar pun pamit pada si Mbah dan segera ia mencari akal untuk melakukan apa yang dikatakan si Mbah dukun tua.

Dalam perjalanannya pulang, saudagar melihat gua. “Nah, disana aku tak akan menemukan bayanganku” kata saudagar dalam hati. Lalu ia pu masuk ke dalam gua dan berusaha membikin seuntai kalung dari akar dan batu pemberian si duku tua.

Saudagar mengalami kesulitan menhindari bayangan, lalu ia masuk lebih dalam ke perut gua. Disana ia berhasil menghindari  bayangannya. Tapi ia mengalami kesulitan lain. Ia tak dapat melihat dalam kegelapan. Ia terus berusaha memasukkan batu ke akar jati, tapi usahanya tak kunjung berhasil, usahanya sia-sia.

Setelah dua hari dua malam berusaha dalam gua, saudagar putus asa. Ia keluar dan kembali melanjutkan perjalannya pulang. Tubuhnya lemas dan perutnya lapar. Kedinginan, ia pun berhenti sejenak di perapian yang dibuat oleh beberapa pengemis jalanan.

Api itu besar dan bercahaya. Ia memberi bayangan pada apapun yang dikenainya. Tapi, dalam api itu sendiri, tak mungkin ditemui bayangan.

Saudagar yang putus asa, kelaparan, kedinginan, dan tak sabar menjadi 1000 kali lebih kaya tanpa pikir panjang melangkah ke dalam api. Ia terbakar. Tak lama kemudian ia mati.

Beberapa pengemis jalanan yang ada di perapian pada saat itu menjadi 1000 kali lebih kaya, menjual harta benda yang dikenakan saudagar yang tak ikut mati dan terbakar.

(Tanpa Judul)

Oleh: Adhito Harinugroho

Sore itu Yadi berdiri di seberang jalan besar, ia bersama teman-temannya melihat keseberang jalan besar itu. Yang dilihatnya, taman segitiga di ujung seberang jalan. Yadi dan teman-temannya ingin pergi ke taman itu, tetapi taman itu memiliki penjaga, penjaga yang suatu saat bisa datang dan menangkap Yadi adn kawan-kawan.

“Yang kita harus lakuan pertama kali adalah menyeberang  jalan kawan-kawan”, Yadi memberi komando kepada kawan-kawannya. Teman-temannya yang berjumlah tujuh orang itu mengangguk.

“Tapi bagaimana bila para penjaga datang di?” tanya Ragam, temannya.

Yadi diam, ia menerawang ke masa lalu, di saat ia dan teman-temannya berada disebuah taman, ia diusir oleh penjaga taman. Yadi tidak tahu mengapa ia diusir, yang ia tahu ia tidak berhak berada di situ. Mereka tidak menjelaskan kenapa, yang jela tidak berhak.

“Begini saja, kita kesana dulu, lalu pura-pura mau lewat saja. Bila ga ada penjaga, baru kita bisa melakukan hal itu”. Kata Yadi. Teman-temannya mengangguk. Saatnya mereka beraksi.

Di jalan besar itu, mobil melaju cepat, memang karena waktu sudah sore sehingga para pengemudi ingin sampai lebih cepat ditunggu anak dan istri di rumah.

“Sekarang…!”, teriak Yadi.

Mereka menyeberang jalan dengan berlari.

“Wooohoo, hiya”, begitulah teriakan mereka

Akhirnya mereka sudah sampai di seberang, tiba di taman, tempat tujuan mereka.

“Gam, periksa keadaan” Kata Yadi

Ragam segera memeriksa keadaan, setelah ia berkeliling, ia melapor kepada Yadi bahwa keadaan sudah aman.

“Baik Kawan-kawan, kita bisa main disini” kata Yadi

Mereka mengeluarkan raket dan kok, mulai main badminton di taman segitiga gandok, ciumbuleuit.

Kim

June 30, 2009

Kim berbinar-binar ketika melihat salah satu tayangan di televisi. Dia selalu berada di depan televisi pada hari selasa malam pukul 22.30-23.30. Dia akan menyingkirkan semuanya demi jam itu. Aktivitas politiknya, pacarnya, dan apa pun itu.

Kim seorang yatim piatu. Ia lahir di Indonesia, meskipun ia keturunan Taiwan. Entah bagaimana orangtuanya meninggal. Yang pasti ia tidak punya siapa-siapa. Persitiwa Mei 98 membuat takut dirinya. Dia takut dibakar, dia takut karena ia bermata sipit.

Dan hanya 1 jam didepan televisi pada pukul 22.30-23.30 dia merasa aman dan bersahaja. Dia melihat keluarganya, saudaranya, dalam tayangan Meteor Garden.

Adhito Harinugroho

Tuhan Mau Pulang

June 30, 2009

Seorang bapak tua berbaju putih, berambut putih dan berjenggot putih duduk sendiri disudut sebuah perempatan jalan. Awan putih dan matahari silau sekali. Seorang anak laki-laki bersepatu putih berlari-lari terengah-engah dan berhenti tepat di hadapan bapak tua itu.

“Hei bapak, aku melihatmu dari tadi dari gedung bertingkat itu, dan aku bingung kepadamu, mengapa kamu diam saja dari tadi, aku merasa terganggu dengan silaumu!” anak laki-laki itu berbicara terburu-buru, nafasnya masih terengah-engah.

Bapak tua itu tersenyum melihat anak itu, “Aku sedang bingung nak. Aku tak tahu harus pulang kemana.”

“Bagaimana kamu tak tahu rumahmu? Setiap orang harusnya memiliki asalnya masing-masing! Ayo sebaiknya kamu lekas pergi, kamu mengganggu dengan silaumu!”

“Memang tiap orang memiliki asal dan tujuannya masing-masing, semuanya sudah tergariskan. Tapi bagaimana jika aku bukan orang?” Bapak tua itu menjawab anak kecil itu

“Memangnya bapak siapa?” tanya anak itu.

“Aku Tuhan” jawab bapak itu perlahan.

“Hah?? Kamu Tuhan? Mengapa kamu tidak tau kamu harus kemana? Kamu kan maha tau!” anak kecil itu tak heran sedikitpun berbicara dengan tuhan.

“Kamu seharusnya bertinggal di hati manusia”

“Tapi orang-orang tidak memberi ruang dalam hatinya lagi”

Anak kecil itu berpikir sejenak, “Aku mau memberi ruang di hatiku”

Tuhan pun tersenyum, “Baiklah aku pulang” Tuhan pun akhirnya berdiri, menyebrang jalan namun ditengah jalan Tuhan ditabrak sebuah mobil putih.

Fransiskus Adi Pramono

Keluarga

June 30, 2009

Konflik keluarga..
Konlik keluarga..
Konflik keluarga..

Seperti sebuah mantra

Bagi saya keluarga adalah suatu bentuk organisasi. Organisasi terkecil di ranah kehidupan masyarakat. Dengan adanya keluarga, maka manusia telah membentuk organisasi.

Organisasi memiliki tujuan bersama. Organisasi memiliki kepentingan bersama. Terdiri dari beberapa anggota. Dan bersama-sama pula untuk mewujudkannya.

Seorang kepala keluarga adalah pemimpin organisasi. Memiliki tanggung jawab atas keberhasilan tujuan keluarga tujuan bersama; anak-anak yang sukses dan mandiri, juga sandang, pangan, papan yang tercukupi.

Lantas bagaimana ceritanya, jika seorang kepala keluarga sibuk membeli kepentingan organisasi lainnya. -Entah itu organisasi yang berprofit/perusahaan/bisnis. Atau organisasi non profit seperti LSM, organisasi pergerakan dan sebagainya- Dan menelantarkan keluarga: Organisasi yang mutlak menjadi tanggung jawab utama seorang kepala keluarga.

Bagaimana? Bagaimana?

Ketika dia (kepala keluarga) sibuk berorasi untuk menuntut kesejahteraan masyarakat disekitarnya, masyarakat dikampungnya, setiap lapisan masyarakat yang ada di negaranya. Sedangkan dia lupa anaknya belum diberi susu hari ini. Belum diberi perhatian malam ini. Belum ditanyakan bagaimana cerita disekolahnya.

Untuk itulah, menurut saya. Seorang lelaki jantan dan machoman, harus terlebih dahulu mementingkan organisasi mungilnya itu. Keluarga. sebelum dia berkoar disana.

Karena atas nama kesejahteraan keluarga sendiri, maka kami mencari uang, maka kami dapat berkontribusi untuk orang lain.

Dengan pekerjaan yang kita lakukan. Sehingga mekanisme jalanya perputaran roda ekonomi nasional dapat terjadi.

Saya teringat kisah tentang Widji Thukul.  Yang dianggap memiliki suara. Menyuarakan kepentingan wong cilik dan sebagainya.

Dia menanggapinya dengan ucapan, “Saya sebenarnya tidak ada niat untuk membela siapa-siapa. Tujuan saya hanya untuk membela kesejahteraan saya, kesejahteraan anak, dan istri saya”

Aulia Fadil

Pulang

June 30, 2009

Aku pulang
Kamu pulang
Kami pulang
Kita pulang
Mereka pulang
Semua pulang

Pulang kemana?

Aulia Fadil

Gadis Kecil Berbaju Kuning dan Balon

June 19, 2009

..Sebuah cerita tentang kebebasan..

Seorang gadis kecil berbaju kuning dengan balon merah berisi gas hidrogen berlari-lari kecil ditengah padang rumput. Balon merah itu melirik ke arah gadis kecil.

“Aku ingin bebas,” keluhnya dalam hati yang berisi gas hidrogen.

Balon merah itu pun memberanikan diri untuk bertanya, “Hei gadis kecil, mengapa aku yang berisi gas selalu terikat?”.

Gadis kecil yang sedang berlari itu pun berhenti sejenak, menatap heran balon merah itu, lalu berpikir dan menjawab “Mungkin kamu akan terbang sampai luar angkasa bila kamu tidak terikat”

“Aku juga ingin bebas seperti kamu gadis kecil, bisa bermain-main sepanjang hari.”

“Oh, tapi kamu sangat lemah balon. Aku tidak bisa melihat sesuatu yang buruk terjadi padamu balon.”

“Sesuatu yang buruk seperti apa?”

Gadis kecil itu menarik balon merah itu dan berbisik kepadanya, “Di padang rumput ini banyak benda tajam yang bisa mencelakakan kamu. Lihat di sebelah sana. Ada kaktus yang berpori-pori lancip yang bisa memecahkanmu, di sebelah sana juga ada ratu lebah dan pasukannya yag selalu berpatroli membawa pedang yang dapat mematikanmu”

“Tapi aku ingin bebas, tak ada lagi yang aku inginkan selain itu, dan aku sangat berterima kasih jika kamu membebaskanku.”

Gadis kecil itu pun berpikir sejenak.

“Baiklah, aku memang tak berhak mengikatmu selamanya”

Gadis kecil itu melepaskan genggamannya, balon merah itu pun terlepas melayang makin tinggi. Hingga sekawanan gagak melewati dan menabraknya sampai balon merah itu meletus.

Gadis kecil berbaju kuning itu hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca sembari menyaksikan temannya terjatuh perlahan-lahan.

(Fransiskus Adi Pramono)